Thursday, 18 January 2018

Play Live Streaming

Live Streaming Radio Audisi BPTIK DIKBUD Prov. Jateng mengudara setiap Senin – Jumat pukul 08.00 – 16.00 WIB

PANCASILA Reborn : Masyarakat Berpendidikan Dan Berkebangsaan sesuai Pancasila

Written by  Agus Marhendro Published in Berita Sunday, 28 May 2017 07:43
Rate this item
(0 votes)

Pancasila Reborn : Masyarakat Berpendidikan & Berkebangsaan sesuai Pancasila

 

“Pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia” (Nelson Mandela)

 

            Kondisi Mental Kebangsaan

            Rabu malam 24 Mei 2017, Jakarta kembali mendapat teror bom, tepatnya terjadi di terminal Kampung Melayu Jakarta Timur yang berakibat tiga orang anggota Polri gugur dan dua orang yang diduga pelaku tewas, 10 orang lainnya luka-luka (kompas.com). Padahal tahun lalu yaitu pada 14 Januari2016 Jakarta secara beruntun juga mendapat serangan bom dan  penembakan di daerah sekitar Plaza Sarinah, Jakarta Pusat. Ledakan terjadi di dua tempat, yakni daerah tempat parkir Menara Cakrawala, gedung sebelah utara Sarinah, dan sebuah pos polisi di depan gedung tersebut. Sedikitnya delapan orang (empat pelaku penyerangan dan empat warga sipil) dilaporkan tewas dan 24 lainnya luka-luka akibat serangan ini. Tujuh orang terlibat sebagai pelaku penyerangan, dan organisasi Negara Islam Irak dan Syam  mengklaim bertanggung jawab sebagai pelaku penyerangan.

            Masih ditahun 2016 tetapi di kota lain yaitu Samarinda juga terjadi pengeboman bahkan Dua dari tujuh tersangka kasus bom molotov di Gereja Oikumene Sengkotek Samarinda, Kalimantan Timur, diketahui merupakan anak di bawah umur. Selain itu, didalam catatan akhir tahunnya KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) juga menyampaikan bahwa ada tiga kasus yang menonjol di 2016, yakni kekerasan  ibu terhadap anak, kejahatan siber (cyber crime), dan terorisme anak (detik.com)

            Didunia akademis khususnya mahasiswa Semarang juga sempat gempar karena mahasiswa FISIP Universitas Diponegoro memasang spanduk dan poster bertuliskan "Garuda Ku Kafir". Dikampus Institut Pertanian Bogor juga sempat dideklarasikan sumpah menegakkan khilafah. Hal ini sangat memprihatinkan karena dilakukan oleh mahasiswa yang semestinya berakal dan cinta Bangsa dan Negara namun mereka justru menyimpang padahal uang kuliah negeri masih mendapat bantuan dari Negara.

            Teror-teror yang berada diwilayah Indonesia tersebut membuat miris dan menimbulkan tanda tanya terhadap sistem pendidikan, kemanusiaan, serta rasa cinta tanah air. Para pelaku tidak menggubris tatanan masyarakat yang sudah ada. Penulis tidak ingin menduga lebih jauh apa motif setiap teror tersebut namun senyatanya kita semua sebagai anggota masyarakat yang berbangsa dituntut untuk menjaga harmonisasi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara termasuk dunia pendidikan sudah seharusnya mengambil peran aktif.

            Pendidikan Sejati

            Pendidikan seperti apa yang kita inginkan sebenarnya didalam dunia yang terus berubah ini ? Apakah pendidikan yang menghasilkan manusia sebagai mesin produksi, pemikir besar,, pemuja nikmat materi, atau hanya pemburu angka-angka diatas kertas. Tentunya tujuan pendidikan kita bukanlah peradaban ekonomi saja namun juga sosial, moral, serta budaya bermartabat. Memang tidak dipungkiri bahwa hasil nyata dari pendidikan berupa kemajuan masyarakat tidak bisa dipetik dalam setahun atau dua tahun saja.  Studi terbaru dari faktor-faktor penentu pertumbuhan ekonomi agregat telah menekankan salah satu factor utamanya adalah peran keterampilan kognitif.

                Bangsa ini sedang tertatih-tatih menuju peradaban gemilang. Sejak Proklamasi kemerdekaan yang dikatakan sebagai jembatan emas menuju  masyarakat yang adil dan beradab maka navigasi pendidikan formal selalu diarahkan kepada tujuan mulia tersebut. Pasang surut politik mempengaruhi arah pendidikan kita. Kabar baiknya adalah semakin mudah akses bagi setiap warganegara untuk mengenyam pendidikan.

            Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hadjar Dewantoro memberikan pedoman yang jelas yaitu pendidikan sejatinya untuk bekal hidup, cinta tanah air dan kemanusiaan, kemasyarakatan yang adil dan beradab serta menumbuhkan nilai-nilai luhur. Karena begitu pentingnya nilai pendidikan tersebut maka sudah disadari untuk ditanamkan sejak dini dari keluarga.

            Jika Menurut David Popenoe, ada empat macam fungsi pendidikan yakni sebagai berikut : a) Transmisi (pemindahan) kebudayaan b) Memilih dan mengajarkan peranan sosial c) Menjamin integrasi sosial d) Sekolah mengajarkan corak kepribadian e) Sumber inovasi sosial.

Baik proses maupun hasil pendidikan kita semaksimal mungkin diarahkan sungguh-sungguh kepada keempat macam fungsi diatas. Pendidikan mulai sejak dini dan tidak mengenal akhir. Pendidikan yang sejati akan melahirkan harapan baru.

            Pendidikan Pancasila

            Pada permulaan tulisan telah dipaparkan contoh kejadian-kejadian tentang berkurangnya rasa cinta kemanusiaan dan tanah air serta keterlibatan dunia mahasiswa didalam pusaran tersebut. Dengan kata lain adanya keterkaitan antara nasionalisme, politik, dan pendidikan. Hari-hari ini pemerintah sepakat bahwa faham nasionalisme perlu kembali dibangkitkan. Kecintaan terhadap Bumi Pertiwi dan Pancasila kembali dikobarkan serta mencegah masuknya faham-faham radikalisme didunia pendidikan.

            Pelaksanaan komitmen tersebut terus bergulir mulai dari Aceh pada tanggal 26 April 2017. Sebanyak 50 pimpinan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) seluruh Indonesia bersepakat menolak segala bentuk paham intoleran, radikalisme, dan terorisme yang membahayakan Pancasila serta Negara Kesatuan Republik Indonesia atau NKRI. Kesepakatan itu dituangkan dalam Deklarasi Aceh yang dibacakan Ketua Forum Pimpinan PTKIN se-Indonesia, Dede Rosyada.

Di Universitas Negeri Semarang juga, pada 6 Mei 2017, telah mengikrarkan dirinya sebagai Universitas yang akan memantau dan menahan faham-faham radikalisme.

            Peran dunia pendidikan sangat penting untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila ideologi bangsa, pemersatu negeri, terhadap gempuran faham radikalisme. Perlu dipikirkan kembali Pendidikan Pancasila di setiap sekolah swasta dan negeri, dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Bisa jadi polanya top down seperti era tahun 1980 sd 1990 an lalu atau melalui kerjasama dengan ABRI dan Polri.

            Kegiatan Pramuka juga memungkinkan sebagai sarana untuk menanamkan rasa cinta tanah air dan nilai-nilai Pancasila. Melalui kegiatan tersebut dipupuk rasa solidaritas, gotong royong, kepemimpinan, dan banyak aspek lainnya.

            Dunia pendidikan bisa saja bekerjasama dengan perusahaan swasta untuk melaksanakan penanaman nilai-nilai Pancasila kepada masyarakat luas melalui skema CSR (Corporate Social Responsibility) yang sudah menjadi keharusan bagi perusahaan-perusahaan swasta.

            Singkatnya bisa menggunakan alternative kegiatan apapun namun sasarannya didunia pendidikan masih sangat memungkinkan. Komitmen kita bersama sangat diperlukan dalam hal ini.

            Juni adalah momentum yang tepat untuk mengawali aktivitas-aktivitas Bela Negara karena pada tanggal 1 Juni diperingati sebagai Hari Lahir Pancasila. Pancasila reborn.

 

Penulis

 Agus Marhendro

Lead Trainer

AIS Training & Consulting

 

Domisili Semarang

Read 290372 times Last modified on Friday, 21 July 2017 03:53

Leave a comment